Ma'had Khadimus Sunnah Bandung
May 22, 2025 at 05:04 AM
📝 *Apakah Imam al-Bukhari dan Muslim Memiliki Hadits-hadits Khusus yang Hanya Terdapat dalam Kitab Mereka?*
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan ahli hadits, khususnya mereka yang mendalami *Shahihain* (Shahih al-Bukhari dan Muslim). Apakah dalam kedua kitab ini terdapat hadits-hadits yang hanya diriwayatkan oleh mereka berdua (atau salah satunya), sehingga tidak tercatat dalam kitab induk sebelumnya hingga kemudian dibukukan oleh kedua imam tersebut?
*Berikut jawaban atas pertanyaan tersebut:*
*Pertama, sumber utama Shahihain* adalah:
✓ Al-Mushannaf karya Imam Abdurrazzaq
✓ Al-Mushannaf karya Imam Ibnu Abi Syaibah
✓ Al-Musnad karya Imam Ahmad
*Kedua, kedua kitab shahih ini tidak keluar dari tiga sumber di atas* (yang merupakan kumpulan dari jawami', nusakh, dan ajza') kecuali sangat sedikit yang tidak signifikan.
*Setiap hadits dalam Shahihain pasti ditemukan dalam ketiga sumber tersebut (atau salah satunya)*, baik secara:
✓ Lafal (teks persis)
✓ Makna (kandungan sama)
✓ Asal (pokok periwayatan)
*Analisis*:
- *Al-Bukhari dan Muslim tidak memiliki hadits khusus yang hanya ada pada mereka*. Mereka hanya *memilih (intikhab)* dari sumber-sumber yang ada di tangan mereka.
- Dalam *Fath al-Bari* (Muqaddimah), al-Hafizh Ibnu Hajar membahas bab berharga, yaitu: [Bab 8: Penyajian Hadits-hadits yang Dikritik Oleh Pakar Hadits Masa Itu (Abu al-Hasan al-Daraquthni) dan Kritikus Lain dengan Menyebutkan Hadits Demi Hadits]
- Di sana, *al-Daraquthni memaparkan jalur-jalur hadis* yang diriwayatkan dalam Shahihain serta perbedaan jalurnya.
- Ia juga *mendiskusikan mengapa al-Bukhari memilih jalur tertentu dan meninggalkan yang lain*.
- Ini membuktikan bahwa *Shahihain bukan kitab "eksklusif", melainkan hasil kurasi (intikhab)* dari sumber-sumber sebelumnya.
- Bahkan *hadits-hadits fard* (yang menyendiri dalam periwayatan), baik fard mutlak maupun fard nisbi, *sebenarnya memiliki jalur lain yang sudah tercatat sebelum Shahihain.*
*Dimana Posisi al-Muwaththa?*:
Apakah kitab al-Muwaththa' bisa ditambahkan sebagai sumber Shahihain? Mengingat al-Bukhari banyak meriwayatkan hadits imam Malik melalui rawi-rawi al-Muwaththa' yang masyhur. Contoh: *Sanad "Malik → Nafi' → Ibnu Umar" yang jamak dalam Shahihain dan al-Muwaththa'.*
Statistik Periwayatan al-Bukhari dari Malik:
Sebanyak 129 hadits dalam Shahih al-Bukhari bersanad Malik → Nafi' → Ibnu Umar (sumber: Tahdzib al-Asma' karya al-Nawawi).
Namun perlu dipahami, sebenarnya cukup mengatakan bahwa Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Muslim) tidak keluar dari tiga kitab besar tersebut (Musannaf Abdurrazzaq, Musannaf Ibnu Abi Syaibah, dan Musnad Ahmad). Adapun al-Muwaththa', pada umumnya juga tidak keluar dari tiga kitab ini. Pembahasan di sini terfokus pada Shahihain dan sumber-sumber utamanya yang besar. *Jadi, persoalannya adalah tentang kedua kitab shahih ini dan penjelasan bahwa dari segi matan (teks hadis), keduanya bersumber dari kitab-kitab yang terbatas, sedangkan dari segi riwayat dan sanad adalah persoalan lain.*
*Pelacakan dari Segi Riwayat:*
Mengkompilasi berbagai ajza' (risalah hadits) dari guru-guru al-Bukhari dan guru-guru beliau akan *memudahkan proses takhrij hadits-haditsnya. Sekaligus membuktikan bahwa kritik terhadap al-Bukhari tidaklah relevan*, karena hadits-haditsnya telah ada sebelum dan sesudah beliau, baik melalui jalurnya maupun jalur lain.
*Contoh Pelacakan Guru-guru al-Bukhari*:
Guru pertama al-Bukhari adalah *al-Humaidi* dimana Musnad-nya telah dicetak. Demikian pula *Abu 'Ashim al-Nabil* (kitab puasa), *Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan* (kitab doa), *Musnad Ibn al-Ja'd*, dll. Bahkan kitab-kitab lima ulama hadis sezaman al-Bukhari yang memiliki sanad sama dengannya.
*Contoh lain perbandingan Shahih al-Bukhari dan Musnad Ahmad*:
- Al-Bukhari: Ali bin Ayyasy → Syu'bah → Abu Shalih → Abu Hurairah
- Ahmad: Ali bin Ayyasy → Syu'bah → Abu Shalih → Abu Hurairah
*Kesamaan sanad ini membuktikan transmisi kolektif*, bukan temuan tunggal al-Bukhari.
*Kesimpulan*:
1. *Metodologi Shahihain*: bukan mengumpulkan hadits baru, tapi *memfilter dari sumber yang ada*.
2. *Bukti Historis*: kritikan al-Daraquthni (w. 385 H) dalam ‘Ilal al-Hadits *menunjukkan bahwa para ulama sudah memverifikasi pilihan Bukhari-Muslim*.
3. *Implikasi*: Shahihain adalah puncak kurasi, bukan "kitab tertutup", dimana hadits-haditsnya *terhubung dengan mata rantai keilmuan sebelumnya*.
*Implikasi Metodologis*:
1. *Peta Sanad*: Dengan melacak ajza' guru-guru al-Bukhari, kita dapat membuat *"peta jaringan periwayatan"* abad ke-2 H.
2. *Studi Kritis*: Kritik al-Daraquthni terhadap beberapa hadits al-Bukhari harus dikaji ulang dengan menelusuri *jalur alternatif yang mungkin terlewatkan.*
Kajian ini konfirmasi akan nilai strategis ungkapan "*Sanad adalah bagian dari agama*."
---
Syawwal 1446
*Yuana Ryan Tresna*
---
*Referensi Utama*:
- Penjelasan al-Muhaddits Dr. Mahmud Sa'id Mamduh
- Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari Bagian Muqaddimah.
- Al-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi tentang metodologi Shahihain.
- Imam al-Daraquthni dalam ‘Ilal al-Hadits.